Butterflies Between Us

Butterflies Between Us

  • WpView
    Reads 83
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 3, 2026
Katanya, The Butterfly Effect adalah tentang bagaimana kepakan kecil sayap kupu-kupu bisa memicu badai di belahan dunia lain. Bagi Zeya, badai itu tidak terjadi di alam terbuka, melainkan di dalam dadanya-meletup dalam bentuk debaran halus yang biasa disebut butterflies in the stomach. Zeya hanyalah siswi jurnalistik di balik lensa kamera, sementara Abiel adalah gitaris band sekolah yang selalu menjadi pusat semesta. Dua garis kehidupan yang berbeda ini seharusnya berjalan lurus tanpa pernah bersinggungan. Saat lembaran lembar cerita mulai terbuka, mampukah mereka meredam badai rasa yang terlanjur lepas?
All Rights Reserved
#377
band
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • The Villain's Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines