GROCERY STORE (VOCES)

GROCERY STORE (VOCES)

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
Grocery Store "Seluruh hidupku aku harus membedakan antara suaramu dan suara yang kudengar di kepalaku. Sekarang aku harus keluar untuk mendengar suara lainnya yang bisa membunuhku? Aku tidak akan keluar!" Kakakku penderita Skizofrenia. Sudah hampir empat tahun ini. Apakah dia sembuh? Sesekali. Sisanya dia mendengar suara-suara aneh yang terus bergentayangan di kepala. Dia bilang terkadang seperti suaraku, lalu ayah ibu yang sudah mati. Aku selalu bilang itu tidak nyata. Itu hanya penyakitnya. Barangkali karena sarafnya rusak. Tapi suatu saat aku sadar, bukan hanya dia yang mendengarnya. Aku juga, dan semua orang di dunia. *** Tentang wabah supranatural yang menyerang dunia di mana mereka menimbulkan suara-suara yang bisa membunuh manusia
All Rights Reserved
#25
wabah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • desa kawitan [END]
  • ELIAN ✓
  • The Antagonis Hates Socializing [End]
  • Secret Relationship
  • ELION (bl)
  • LINTANG PANJER WENGI END
  • Lysander Lowell De Villiers
  • Desa Jragat [End] [Revisi]

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines