JURAGAN DESA
Debu jalanan desa yang berterbangan seiring langkah kaki Gendis seolah menyambut kepulangannya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah dan jerami yang begitu kontras dengan bau knalpot serta pengapnya udara ibu kota. Kota metropolitan yang dulu menjanjikan impian besar, justru meremukkan mentalnya hingga ia memilih pulang ke pelukan sang ayah di desa.
Dengan tinggi seratus lima puluh lima sentimeter, langkah Gendis tampak kecil namun mantap. Di balik balutan baju longgar yang dikenakannya, bentuk tubuhnya yang sintal tetap terlihat jelas-memiliki bokong yang padat berisi serta dada berukuran jumbo yang kontras dengan posturnya yang mungil.
Wajahnya yang putih bersih dan menawan tertunduk lesu. Sebagai kembang desa yang dulu diagung-agungkan, sorot matanya kini menyiratkan lelah dan rasa malu yang mendalam.