Dua dunia sering kali bertemu tanpa suara.
Di satu sisi, ada seseorang yang menghabiskan harinya di balik jendela kaca lantai dua, dikelilingi oleh tumpukan buku dan heningnya ruang berpendingin udara.
Ia adalah pemilik dari garis-garis tegas di setiap sudut bangunan ini, sosok yang kehadirannya ditandai dengan bunyi langkah sepatu kulit di atas lantai marmer yang dingin.
Di sisi lain, ada seorang remaja yang tumbuh bersama aroma tanah basah dan sisa embun di ujung daun. Ia lebih sering terlihat berjongkok di antara rumpun mawar atau memanjat pohon mangga di sudut halaman. Baginya, batas dunia adalah luasnya halaman hijau itu, tempat ia belajar membaca musim dari warna daun yang gugur.Pertemuan mereka biasanya terjadi saat sore mulai jatuh.
Dari balkon, sosok yang berada di dalam rumah sering kali memperhatikan bagaimana sang remaja dengan cekatan merapikan dahan yang patah, sementara sang remaja sesekali mendongak, menangkap bayangan di balik jendela kaca yang selalu tampak kesepian. Tidak ada percakapan panjang, hanya anggukan kecil yang melintasi batas antara dinginnya dinding semen dan hangatnya tanah terbuka-sebuah persahabatan yang terjalin dalam jarak yang tak pernah benar-benar menyatu.
All Rights Reserved