Menikah karena wasiat. Mencintai karena terbiasa. Bertahan karena... entah. Dulu, aku hanya gadis kecil yang dijodohkan dengan pria Arab yang jauh lebih tua. Katanya calon suami idaman-tampan, kaya, sholeh. Tapi takdir lucu. Saat kami benar-benar tinggal serumah sebagai suami istri, dia sudah tak bisa berdiri. Tak bisa menyentuhku. Tak bisa apa-apa selain berbicara dengan suara pelan lewat lehernya yang berlubang alat bantu napas. Tapi dari semua yang dia tak bisa, dia bisa satu hal dengan sangat sempurna: mencintaiku tanpa syarat. Sedangkan aku... masih belajar menurunkan nada bicaraku. Masih belajar mengusap kepalanya tanpa gengsi. Masih belajar menerima bahwa cinta sejati tak selalu datang dengan pelukan-kadang hanya dengan lirih suara, "Dek... Mas kangen." Dan itu cukup menggetarkan seluruh dunia hatiku.
Detail lengkap