Chongqing selalu punya cara untuk menyembunyikan rahasia di balik kabutnya yang abadi. Di antara riuh rendah kota yang tak pernah tidur, ada dua jiwa yang berjalan dengan beban yang tak sanggup mereka terjemahkan; sebuah rindu yang salah alamat dan sisa-sisa janji yang tertinggal di masa lalu. Mereka hidup dalam mimpi yang telah tercapai, namun entah mengapa, hati mereka masih merasa seperti rumah yang separuh kosong, menantikan ketukan pintu dari seseorang yang namanya pun belum mereka ingat.
Seperti rintik hujan yang jatuh di atas payung putih transparan, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah kepulangan. Ada rasa sakit yang familiar saat netra mereka beradu-sebuah luka lama yang tak berbekas namun terasa nyata. Di bawah langit yang meremang, mereka belajar bahwa takdir tidak pernah benar-benar menghapus cerita; ia hanya menggantinya dengan tinta baru, mengubah setiap air mata yang pernah tumpah menjadi pupuk bagi harapan yang mulai bersemi di sela-sela bebatuan.
Ini adalah tentang kesempatan kedua yang ditulis oleh semesta dengan sangat hati-hati. Tentang bagaimana cinta mendefinisikan ulang dirinya sendiri saat mimpi tidak lagi terasa seperti ekspektasi, melainkan tentang siapa yang berdiri di sampingmu saat hujan turun paling deras. Di sini, di mana gerimis tidak lagi membawa pergi napas, mereka akan menemukan bahwa sebuah janji untuk "tidak akan pernah meninggalkan" adalah satu-satunya kompas yang mereka butuhkan untuk pulang ke pelukan yang sama.
Ini adalah another universe dari Dream Deferred, Love Defined. Sangat disarankan untuk baca itu dulu, tapi kalau mau langsung kesini untuk versi happy ending, silahkan. I hope you enjoy it as much as I enjoyed writing this heartwarming story.
All Rights Reserved