The Billionaire's Little Obsession
SINOPSIS:
The Billionaire's Little Obsession
Bagi Callysta Wirasakti Kusuma, prinsip hidupnya cuma satu: Visual itu penting, tapi saldo rekening itu segalanya.
Jadi, ketika sang Papa menjodohkannya dengan Arion Syailendra, Callysta tidak mengamuk. Satu lirikan pada wajah Arion yang kelewat tampan dan satu pencarian Google tentang total kekayaan keluarga Syailendra sudah cukup membuat Callysta berkata: "Gaspol, Pa!"
Masa bodoh kalau Arion itu kaku, sedingin kulkas, dan bicara pakai bahasa "Saya-Kamu" yang super formal. Bagi Callysta, Arion adalah ATM berjalan dengan visual dewa. Kapan lagi dapet suami yang bisa bayarin shopping haul sekaligus enak dipandang saat bangun tidur?
"Gue sih realistis aja. Ganteng? Cek. Kaya tujuh turunan? Cek. Kaku dikit tinggal gue goyang pake pesona gue, beres kan?" - Callysta.
Namun, Callysta meremehkan satu hal. Arion bukan sekadar pria gila kerja yang mudah dikendalikan. Di balik setelan jas mahalnya, Arion menyimpan sisi dominan yang berbahaya.
Callysta terus memancing, menggoda dengan bahasa "Lo-Gue" yang berani dan tingkah centilnya yang binal. Ia hanya ingin uang dan ketampanan Arion, tapi tanpa sadar, ia justru membangkitkan obsesi gelap sang CEO yang selama ini terkunci rapat.
Saat Arion mulai hilang kendali, Callysta baru sadar kalau ATM berjalan-nya ini punya cara main yang sangat panas di balik pintu kamar.
"Kamu pikir saya hanya mesin uangmu, Callysta? Sekarang, bayar semua kemewahan itu dengan seluruh tubuh dan waktumu. Jangan harap bisa lari dari saya." - Arion Syailendra.