"Terkadang, cinta yang berakhir asing jauh lebih baik dibanding tetap tinggal namun saling menguliti jiwa."
Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling mencintai dengan amat sangat, namun juga saling menyakiti dengan begitu tragis.
Yang satu memilih mencintai dengan cara melepaskan dan menghilang. Dia mengasingkan diri, memeluk trauma mendalam, dan membiarkan jiwanya hancur dalam kesunyian.
Sementara yang lain, terjebak dalam teka-teki tak kasat mata yang menyiksa batinnya. Setiap kali dia mencoba kembali dan mendekat, sosok yang dia cintai selalu mendorongnya pergi dengan dingin. Penolakan demi penolakan itu menumbuhkan sebuah asumsi menyakitkan di kepalanya-bahwa dirinya tidak lagi dicintai, dan sosok itu telah melangkah jauh membuka lembaran baru tanpa dirinya. Merasa tak lagi diinginkan, dia akhirnya memilih menyerah, mengubur sisa harapannya, dan memaksa dirinya sendiri untuk ikut berjalan maju membuka lembaran hidup yang baru.
Cinta tidak selalu menyembuhkan. Ketika rahasia, salah paham, dan luka masa lalu telah bermutasi menjadi racun, pelukan yang paling hangat sekalipun bisa menjelma menjadi senjata yang mematikan.
Ketika takdir menyeret mereka kembali ke dalam satu ruang yang sama dan meruntuhkan semua asumsi fana tersebut, mereka justru terjebak dalam dilema baru yang mencekik: bertahan berarti saling menyiksa lahir dan batin, namun melangkah pergi berarti memicu sebuah kematian.
Sebuah romansa psikologis yang kelam tentang bagaimana dua manusia yang saling memuja, harus menghadapi kenyataan bahwa cinta mereka telah berubah menjadi labirin trauma yang menghancurkan.
All Rights Reserved