MENGINCAR BURUH BANGUNAN JANTAN
Pagi itu di Desa Sukamaju, kabun singkong di belakang rumah Kang Arga masih basah oleh embun. Suara kokok ayam hutan bersahutan dengan deru mesin motor butut yang sedang dipanasi. Kang Arga (43), sosok pria dengan tinggi 178 cm dan kulit yang terbakar matahari hingga sewarna tembaga, sedang sibuk memakai sepatu booth karetnya yang sudah mulai bolong di ujung.
Otot lengannya yang besar dan berurat menonjol setiap kali dia menarik tali sepatu. Itu bukan otot hasil nge-gym, tapi pahatan alami dari puluhan tahun memanggul semen, menghantam beton, dan menyusun bata. Di balik kaos singletnya yang sudah agak menguning, otot dadanya yang bidang terlihat sangat jantan, kontras dengan wajahnya yang mulai dihiasi kerutan namun tetap terlihat sangat macho.
"Mas, kopinya diminum dulu, jangan buru-buru," suara lembut terdengar dari arah dapur. Reno (38), sosok boty manis dengan senyum yang selalu menyejukkan, keluar membawa segelas kopi hitam panas dan sepiring singkong rebus.