Selama ini, aku menjalani hari-hari seperti mesin yang terus berputar hanya karena harus. Kepergian Bapak seolah mencabut saklar emosiku; aku tidak benar-benar sedih, tidak benar-benar bahagia, aku hanya ada.
Aku menjadi ahli dalam berpura-pura kuat, sampai akhirnya aku lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang bisa merasa.Lalu, di hari itu, ia muncul kembali.
Pertemuan itu sederhana, namun dampaknya menghantamku tanpa peringatan. Entah kenapa, saat menatap matanya, muncul sebuah letupan perasaan yang selama ini terkubur rapat di bawah tumpukan tanggung jawab dan duka.
Rasanya seperti seseorang yang sudah lama mati rasa, lalu tiba-tiba merasakan aliran hangat yang menjalar kembali ke ujung jari. Itu bukan sekadar rasa rindu pada teman lama, melainkan rasa syukur karena akhirnya aku bisa merasakan 'sesuatu' lagi setelah sekian lama hidup dalam kehampaan.
(CC) Attribution-ShareAlike