Lalisa, Slowly Dying

Lalisa, Slowly Dying

  • WpView
    Reads 2,490
  • WpVote
    Votes 545
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2026
Di balik pernikahan mewah yang terlihat sempurna, Jennie Kim hanya merasa hidupnya sedang dijual untuk menyelamatkan keluarganya yang hampir bangkrut. Ia membenci semua tentang perjodohan itu. Tentang nama besar Manoban. Tentang CEO dingin bernama Lalisa. Dan tentang fakta bahwa hidupnya kini berada di tangan wanita asing yang bahkan nyaris tidak pernah tersenyum. Namun semakin lama tinggal bersama Lisa, Jennie mulai menyadari ada sesuatu yang disembunyikan di balik ketenangan wanita itu. Obat-obatan. Demam yang datang diam-diam. Tubuh yang perlahan melemah. Dan kesepian yang terlalu lama dipendam sendirian. Lalisa Manoban memiliki segalanya: uang, kekuasaan, dan dunia yang tunduk padanya. Kecuali waktu. Dan tanpa sadar, Jennie jatuh cinta tepat ketika ia mengetahui bahwa wanita yang kini menjadi rumahnya sedang perlahan hancur dari dalam. A story about love, fear, illness, and two people who found each other too late.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • NOT MEANT TO BE
  • Their Unhappy Marriage
  • ONESHOT STORY COMPILATION - JENLISA
  • TOXIC BOYFRIEND
  • I'm Not Just a Figuran
  • JENLISA - STALKER (GIP)
  • Flash Marriage : The Dominering  Wife
  • Jodoh Pilihan Mama
  • Garwo
  • The Moon Will Find You
  • ZERO SIX FORTY - JENLISA [G!P]
  • Last Hope - Cawooz
  • Love After Marriage, He Got A Free Wife
  • AFTER THE CURTAIN FALLS - JENLISA [G!P]
  • The Servant [James Harem]
  • Love me or die
  • Justine
  • FRIEND'S? - KRATINGMEEN
  • 7 WAYS TO MAKE YOU LOOK AT ME
  • Same, But Not

"Aku mau kita cerai." Bagai tersambar petir, tubuh Lalisa kaku, detak jantungnya terasa berhenti untuk sepersekian detik, dan senyum yang sebelumnya menghiasi bibirnya hilang seketika. Jennie segera mengalihkan pandang setelah itu, melepas tangan Lalisa yang masih melingkari tubuhnya, dan mengambil jarak sedikit lebih jauh. "Kamu bercanda?" suara Lalisa terdengar berat, memaksa untuk tetap tenang saat ia merasa sangat terluka, "bayi kita sedang tumbuh di rahim kamu, Jennie.. tega kamu menginginkan perceraian semacam ini?" "Kamu salah.. Lalisa, bayi ini bukan anak kamu.." "Jangan berusaha merendahkan dirimu sendiri, karena aku tidak akan pernah percaya!" gertak Lalisa. "Kenapa?" Jennie melempar tanya, "berkencan dengan pria lain saat aku menikah denganmu saja aku bisa, kenapa mengandung anak pria lain aku tidak bisa?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines