Bhumi, Kala, Dan Limbah Perasaan

Bhumi, Kala, Dan Limbah Perasaan

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 12, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Enemies to Lovers
College and University
Romantic Comedy
Kala Binar Adiratna adalah gadis pencinta alam yang hidup dengan satu ambisi besar: menjaga bumi tetap lestari. Bagi Kala, keseimbangan ekosistem bukan sekadar teori, melainkan tujuan hidup yang harus diperjuangkan. Karena itu, ia memilih menjadi mahasiswa Teknik Lingkungan-berperang melawan limbah, mengurangi jejak karbon, dan memastikan bumi tetap hijau bagi seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya. Namun, idealisme Kala mulai terusik saat ia bertemu Silas Bhumi. Di mata Kala, Silas adalah representasi dari segala hal yang ia benci: seperti limbah B3-berbahaya dan sulit ditangani-beton tebal yang kaku, hingga mesin diesel yang bising dan mengganggu. Mahasiswa Teknik Sipil itu tengil, menyebalkan, dan selalu punya cara membuat emosi Kala meledak tanpa peringatan. Sementara bagi Silas, hidup hanya tentang kekuatan struktur, keamanan material, dan manajemen proyek. Idealisme Kala justru menjadi hiburan tersendiri baginya. Gadis itu, menurut Silas, seperti rumah kaca-terlihat hangat dan indah dari kejauhan, tetapi mudah memanas ketika seseorang terlalu dekat. Di tengah hari-hari kampus yang dipenuhi perdebatan soal limbah, jejak karbon, struktur bangunan, serta dentuman argumen di antara tumpukan kertas kalkir dan kopi hambar kantin Budhe, sesuatu mulai berubah. Kala menyadari bahwa menghadapi Silas jauh lebih sulit daripada menghitung kadar polutan di air got. Sedangkan bagi Silas, menaklukkan hati Kala ternyata membutuhkan fondasi yang lebih kokoh daripada proyek bangunan mana pun yang pernah ia kerjakan. Ketika idealisme bertabrakan dengan logika konstruksi, mungkinkah dua manusia yang saling berseberangan justru menemukan cara untuk membangun sesuatu yang tak pernah mereka rencanakan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines