Di tengah kota bersalju, Elara berdiri sendiri di halte, tubuhnya digerogoti dingin malam. Pulang baginya hanyalah kata kosong rumah tua yang sunyi, menyimpan kenangan yang menekan hati. Kehilangan orang tua dan adik-adiknya membuat hidupnya terasa panjang, berat, dan sepi.
Di bus yang padat, ia berdiri memegangi tiang dingin, menahan tubuh lelah dan hati rapuh. Hidupnya, pada usia dua puluh dua, seperti lorong tanpa akhir: mimpi-mimpi sederhana tercabut satu per satu oleh kenyataan yang kejam. Harapan bukan pelipur lara, tapi luka yang terus menoreh.
Di rumah lapuk, di depan perapian yang menyala redup, tangisnya pecah. Skripsi yang tak selesai, kesepian, dan hidup yang berulang tanpa arah menindihnya. Namun di tengah malam, suara samar memecah kesunyian: "Elara... bangunlah." Sebuah makhluk bercahaya putih muncul, memanggilnya menuju sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya.
Kisah ini tentang kehilangan dan kesepian yang nyata, tapi juga tentang percikan harapan yang tak terlihat tentang perjalanan seorang manusia tersesat untuk menemukan cahaya di kegelapan.
All Rights Reserved