Faris selalu menutupi luka di kepalanya dengan sebuah peci hitam. Tidak banyak yang tahu bahwa bekas jahitan itu adalah sisa dari keberanian yang pernah menyelamatkan nyawa seseorang, sekaligus luka yang perlahan mengubur mimpinya menjadi seorang prajurit TNI.
Sebagai santri Pesantren Darul Hikmah, Faris dikenal disiplin, cerdas, dan memiliki hafalan Al-Qur'an yang kuat. Ia berjuang mengikuti seleksi Paskibraka demi membuka jalan menuju cita-citanya. Namun di balik latihan keras dan doa panjang setiap malam, Faris harus menghadapi kenyataan pahit: dunia tidak selalu adil.
Kecurangan, pengkhianatan, dan sistem "orang dalam" menghancurkan harapannya satu per satu. Ditambah lagi, bekas luka di kepalanya dianggap sebagai cacat fisik yang membuat impiannya hampir mustahil tercapai.
Saat semua jalan terasa tertutup, Faris menemukan jalan lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jalan yang membawanya hingga ke tanah para nabi, Mesir, dan mempertemukannya dengan takdir baru sebagai calon prajurit melalui jalur hafidz Al-Qur'an.
"Kadang, luka bukan hadir untuk menghentikan langkah kita. Tapi untuk mengantarkan kita menuju takdir yang lebih besar."
Sebuah kisah tentang mimpi, pengorbanan, persahabatan, dan perjuangan seorang santri yang percaya bahwa Allah tidak pernah salah menentukan jalan hidup manusia.
All Rights Reserved