Suasana festival begitu riuh. Musik berdentum, namun bagi Liona, semuanya terasa seperti latar belakang yang buram. Ia berusaha menghindari kerumunan, mencari jalan keluar dari labirin manusia bertopeng yang memenuhi aula.
Langkah Liona terhenti di lorong remang-remang menuju taman belakang. Sosok tinggi tegap berdiri di sana, menghalangi jalan. Pria itu mengenakan jubah hitam dengan topeng perak yang menutupi setengah wajahnya. Atmosfer di sekitarnya terasa berat, mencekam, dan berbahaya.
"Jejakmu adalah degup jantungku," suara itu muncul secara tiba-tiba, berat dan serak, memotong keheningan lorong.
Liona mundur selangkah, namun pria itu bergerak lebih cepat. Kenzo Maceheda. Nama itu berputar di kepala Liona, sebuah peringatan insting bahwa pria di depannya bukanlah manusia yang bisa diajak bernegosiasi.
Kenzo mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengurung Liona di antara dinding dan lengan kokohnya. Suaranya merendah hingga hampir berbisik di telinga Liona, mengirimkan sensasi dingin yang menggelitik tengkuk.
"Ke mana pun kau lari, aku adalah bayangan yang menanti. Aku akan mengoyak sumber kebahagiaanmu, membiarkan gagak berpesta di atas lukamu, lalu menjemput sisa-sisa jiwamu untuk kembali pulang ke pelukanku."
All Rights Reserved