Rumah itu Tempat Pulang, Kan?

Rumah itu Tempat Pulang, Kan?

  • WpView
    Membaca 16
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadLengkap Jum, Mei 15, 2026
Di sebuah toko buku kecil yang hampir selalu sepi, Alea menemukan satu-satunya tempat yang terasa aman baginya. Di antara aroma buku lama, suara hujan, dan teh hangat buatan Pak Bimo, ia bisa bernapas tanpa takut salah bicara. Berbeda dengan rumahnya sendiri. Bagi ibunya, Alea selalu menjadi anak yang merepotkan. Selalu terlalu pendiam, terlalu lambat, terlalu mengecewakan dibanding adiknya, Nadine. Karena itu, Alea terbiasa hidup dengan hati-hati. Menahan diri. Menahan marah. Menahan semuanya sendirian. Sampai suatu malam hujan mempertemukannya dengan Raka Adiprana - laki-laki asing dengan kaus kaki tidak sepasang, senyum santai, dan cara bicara yang anehnya membuat Alea merasa diperhatikan. Pertemuan mereka seharusnya sederhana. Hanya pelanggan dan penjaga toko buku. Namun sebuah jaket hitam yang tertinggal malam itu perlahan mengubah hidup Alea sedikit demi sedikit. Karena kadang, rumah bukan tentang tempat kita pulang. Tapi tentang siapa yang akhirnya membuat kita merasa tidak sendirian.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#5
rumahpulang
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Dateline [END]
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Silent Traces by the Sea
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • Be My Wife

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan