Di balik seragam putih abu-abu dan senyum kecil yang tampak biasa saja, Elian Naresta menyimpan hidup yang penuh keraguan. Kehilangan ayah sejak kecil, tekanan hidup, hingga masa SMP yang dipenuhi ejekan membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang perlahan kehilangan arah terhadap dirinya sendiri.
Ia sering dianggap terlalu lembut. Terlalu berbeda. Terlalu aneh untuk menjadi "laki-laki yang normal" menurut orang-orang di sekitarnya.
Semakin lama, Elian mulai terbiasa hidup di dalam versi dirinya yang sebenarnya tidak ia sukai. Sebuah zona nyaman yang terasa aman, namun diam-diam menenggelamkannya sedikit demi sedikit. Ia ingin berubah, sangat ingin berubah. Ingin menjadi lebih dewasa, lebih disukai, lebih mudah bergaul, dan berhenti membuat orang lain memandangnya aneh.
Namun setiap kali mencoba melangkah maju, Elian selalu kembali terjebak pada dirinya yang lama.
Pada rasa takut.
Pada kebiasaan.
Pada kenyamanan semu yang sudah terlalu lama menemaninya.
Kini, saat memasuki SMA, Elian mencoba memulai semuanya dari awal. Lingkungan baru, orang-orang baru, dan harapan baru perlahan membuka kesempatan baginya untuk menjadi seseorang yang berbeda.
Tetapi perubahan tidak pernah semudah mengucapkannya.
Karena terkadang, musuh terbesar seseorang bukanlah ejekan orang lain...
melainkan dirinya sendiri.
Dan di antara semua kegagalan, rasa malu, serta keinginan untuk diterima, Elian mulai mempertanyakan satu hal yang terus mengganggu pikirannya:
Apakah seseorang seperti dirinya masih pantas dibantu untuk berubah...?
INTINYA INI GA ADA UNSUR LGBT NYA GUYS, TAPI MEMANG SI ELIAN INI SEDIKIT FEMINIM DAN NANTINYA JUGA ADA YANG BERPRASANGKA BURUK KE ELIAN TENTANG ORIENTASINYA ITU, JADI INI UDAH 100% GA LGBT
All Rights Reserved