Beetwen The Pink and Blue

Beetwen The Pink and Blue

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 14, 2026
Hai semua, aku punya cerita menarik dan lucu yang ingin aku bagikan pada kalian semua. Semoga tertarik, ya! Bagaimana sih rasanya berdansa sendiri tanpa partner? Ada yang bilang rasanya sepi, ada yang bilang asyik, dan ada juga yang bilang pasrah. Hah, Pasrah? Mengapa bisa pasrah? Di dalam novel ini menceritakan seorang gadis yang pasrah saat berdansa sendirian. Dia terus berdansa sendiri di sepanjang cerita, loh. Dia adalah Liana Benadir. Dia mengalami masa jatuh cinta ketika umurnya 14 tahun. Baginya pria yang ia cintai adalah pria yang sempurna. As always, cinta itu buta. Tapi... sayang sekali cintanya tidak terbalaskan. Sang pujaan hati tidak mencintai Lianna sama sekali. Dia memilih gadis pilihannya dari pada Lianna. Lalu bagaimana nasib Lianna? Apakah dia akan terus berpasrah, atau ada perubahan dan bertekad untuk mendapatkan cintanya? Hm.. apa itu memungkinkan? Click to read more❤️!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines