Di tengah sunyinya tebing kapur Padalarang yang selalu diselimuti kabut Parahyangan, beridiri sebuah kedai misterius yang menawarkan kesempatan bagi jiwa-jiwa yang hancur untuk kembali ke masa lalu selama lima menit. Raihan, seorang pelukis berbakat yang kehilangan arah sejak kepergian istrinya, Nuri, memutuskan untuk menukar hal paling berharga dalam hidupnya-kemampuannya melihat warna-demi satu pertemuan terakhir yang singkat. Namun, perjalanan mistis ini justru membawanya pada kenyataan pahit bahwa masa lalu adalah tempat yang egois, di mana setiap detik yang dikunjungi menuntut bayaran berupa bagian dari jiwa yang tak akan pernah bisa kembali.
Setelah kehilangan dunianya yang berwarna dan hidup dalam bayang-bayang monokrom, Raihan tidak memilih untuk pergi, melainkan menetap sebagai penjaga kedai tersebut di bawah bimbingan Pak Danu. Ia bertransformasi dari seorang pria yang didera penyesalan menjadi saksi bisu bagi ribuan duka manusia lainnya, belajar bahwa esensi cinta dan kedamaian tidak terletak pada indahnya pigmen visual, melainkan pada keikhlasan untuk melepaskan. Kisah ini berakhir dengan penerimaan diri yang mendalam, di mana Raihan menemukan bahwa meski matanya tak lagi mampu menangkap pelangi di langit Bandung, hatinya telah menjadi mercusuar bagi mereka yang tersesat di labirin waktu.
[Jakarta, 16 Mei 2026]
All Rights Reserved