Nayara dan Kanya bukan sekadar dua sahabat yang dipertemukan oleh waktu, melainkan dua jiwa yang tumbuh bersama di tengah hari hari sederhana pondok.
Di sela tawa kecil, percakapan panjang, dan malam-malam yang dipenuhi cerita, keduanya merangkai mimpi tentang masa depan yang ingin mereka capai.
Bagi Nayara, Kanya adalah tempat ia belajar percaya bahwa langkah kecil hari ini mampu mengantarkan pada impian besar di masa depan. Begitu pula bagi Kanya, Nayara adalah pengingat bahwa perjuangan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama seseorang yang saling memahami.
Di antara lelahnya belajar, keraguan yang kadang datang, dan kenyataan bahwa setiap orang pada akhirnya harus memilih jalannya masing-masing, mereka terus saling menguatkan. Bersama, mereka menanam harapan di setiap doa dan usaha, percaya bahwa semua mimpi yang mereka bangun perlahan akan menemukan jalannya.
Namun waktu terus berjalan, membawa perubahan yang tak bisa dihindari. Saat masa depan yang selama ini mereka susun mulai berada di depan mata, Nayara dan Kanya dihadapkan pada satu pertanyaan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya
akankah mereka tetap melangkah bersama?
meraih mimpi yang telah mereka bangun sejak awal, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang berbeda?
Dan di antara segala harapan yang belum terjawab, hanya waktu yang bisa menentukan apakah kisah mereka akan berakhir sebagai kenangan, atau menjadi awal dari masa depan yang mereka perjuangkan bersama.
Creative Commons (CC) Attribution