MÍA SIEMPRE

MÍA SIEMPRE

  • WpView
    Reads 176
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 4, 2026
" lo bukan pacar gw, tapi milik gw! milik NICHOLAS ABISAKA DUVALL!!" ....... Alea baru saja pindah ke rumah baru setelah ibunya menikah lagi. Semua terasa aneh- lingkungan baru, teman baru, dan terutama... kehadiran Nicholas. Kakak tiri nya yang Dingin. Kasar. Misterius. Tapi justru di balik sikap dinginnya yang menyesakan, tersimpan rasa yang jauh lebih berbahaya. Mereka tinggal di bawah satu atap. Dilarang saling jatuh cinta. Tapi siapa yang bisa melawan takdir ketika sentuhan mulai terasa terlalu lama, dan tatapan mulai menyimpan api? Cinta mereka salah. Tapi siapa yang bisa berhenti kalau luka justru terasa seperti candu? --- ️ HAPPY READING GUYSSS TAPI FOLLOW DULUU NYAAAK😘
All Rights Reserved
#714
fantasy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain's Mother
  • Beautiful Obsession
  • Almost Married (END)
  • 𝒯𝒽𝑒 𝒮𝒽𝒶𝒹𝑜𝓌 𝐵𝑒𝒽𝒾𝓃𝒹 𝒴𝑜𝓊
  • MADLY LOVE
  • Bound By The Twisted Fate
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Bound by His Obsession
  • DOMINEX | The Crime Lock

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines