Still, We Remain

Still, We Remain

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 15, 2026
Bagaimana bila peran dibalik? Bagaimana bila negeri ini dipimpin oleh sosok yang terlihat lembut namun berhati baja? Apakah Nusantara akan menjadi lebih baik? Kampanye boleh berakhir. Pemilu boleh datang dan pergi. Sejarah boleh mencatat mereka dengan berbagai tafsir. Namun di balik biru langit dan gemuruh politik, ada cinta yang tidak pernah benar-benar terpisah-cinta yang bertahan bukan karena tidak diuji, tetapi karena tidak pernah berhenti memilih untuk kembali. Saktika Hendiana Hariani, sang Presiden terpilih dan Prabu Suardana Djojonegoro, sang Perwakilan Rakyat yang akan melenggang di Parlemen, mereka selalu berdampingan, bukan sebagai simbol dua keluarga besar yang pernah berseberangan, bukan sebagai calon presiden dan calon legislator. Melainkan sebagai Tika dan Mas Prab. Sebagai dua hati yang sejak lama telah memutuskan: Apa pun yang terjadi di panggung besar bernama negeri ini, mereka akan tetap pulang satu sama lain.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan anggrek putih"
  • KESETIAAN
  • the general's loyalty
  • AFFAIR LOVE
  • Di Antara Takdir dan Cinta
  • 4 Ways to Get a Wife (VJoy version)
  • Diplomasi Rasa
  • The Sovereign's Heart Return
  • Unrighteous 2
  • Daechwita // Masa Lalu Yang Di Ubah

dua hati yang memilih tetap bersama, bukan karena semuanya mudah, tetapi karena mereka percaya cinta layak diperjuangkan. Bukan perpisahan yang menguji mereka, melainkan bagaimana keduanya tetap bergandengan tangan saat badai kehidupan mencoba meruntuhkan segalanya. "Pradika Samudra Dwijendra", pria berprinsip kuat dan berhati setia, meyakini bahwa cinta sejati bukan sekadar janji-tetapi keberanian untuk tetap tinggal, memperbaiki, dan terus mencintai meski keadaan sulit untuk dimengerti. "Tania Hannesa Hartono", perempuan lembut yang penuh ketabahan, percaya bahwa ketika dua hati saling memilih dengan tulus, tidak ada badai yang mampu memisahkan mereka. Mereka pernah terluka. Mereka pernah hampir menyerah. Mereka pernah mempertanyakan arah dan tujuan. Namun di setiap air mata, ada pelukan yang menenangkan; di setiap pertengkaran, ada rindu yang tak pernah hilang. Dan kini, ketika badai itu akhirnya reda-mereka berdiri berdampingan, bukan lagi sebagai dua jiwa yang bertahan, tetapi sebagai dua hati yang siap memulai babak baru. Bukan untuk memperbaiki masa lalu, melainkan untuk menciptakan masa depan yang lebih indah, bersama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines