Falling Love Again

Falling Love Again

  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 25, 2026
Hannah Valerie tidak pernah membayangkan bahwa sosok yang paling ingin ia lupakan akan kembali hadir tepat di hadapannya sebagai atasan barunya. Sudah hampir lima tahun Hannah bekerja sebagai Kepala Bidang Hubungan Kerja Sama di PT Arthera Group.Saat mendengar kabar bahwa perusahaan akan memiliki manajer umum baru untuk Divisi Humas, ia menjadi salah satu orang yang paling antusias. Baginya, pergantian manajer berarti lingkungan kerja yang lebih segar dan kesempatan baru untuk berkembang. Namun semangat itu runtuh dalam hitungan detik. Pria yang berjalan memasuki ruang rapat pagi itu adalah Daniel Azora,mantan kekasihnya yang menghilang tanpa penjelasan bertahun-tahun lalu. Tidak ada kata putus. Tidak ada pertengkaran besar. Daniel hanya pergi... dan tak pernah kembali. Kini, pria yang dulu meninggalkan Hannah dengan ribuan pertanyaan justru duduk sebagai Manajer Umum baru Divisi Humas PT Arthera Group. Hannah yang masih menyimpan luka memilih bersikap dingin dan profesional. Sementara Daniel, dengan tatapan tenang dan sikap sarkastisnya, terus bertindak seolah masa lalu mereka bukan sesuatu yang perlu dibahas. Sayangnya, takdir seakan menikmati kekacauan mereka. Sebuah proyek kerja sama besar antara PT Arthera Group dan Veins Corporation memaksa Daniel dan Hannah bekerja bersama sebagai penanggung jawab utama negosiasi infrastruktur dan interior perusahaan. Dari rapat formal, perjalanan dinas, hingga lembur malam yang melelahkan, keduanya tak punya pilihan selain terus berada di sisi satu sama lain. Di balik pertengkaran kecil, sindiran tajam, dan sikap saling menghindar, perlahan muncul kembali perasaan yang dulu belum sempat benar-benar selesai. Namun kali ini, Hannah tidak ingin menjadi perempuan yang ditinggalkan tanpa jawaban. Dan Daniel... menyimpan alasan besar mengapa ia memilih menghilang bertahun-tahun lalu. Karena terkadang, perpisahan paling menyakitkan bukanlah kata "selamat tinggal" melainkan seseorang yang pergi tanpa pernah menjelaskan alasan
All Rights Reserved
#104
cintalama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines