The Clock We couldn't stop

The Clock We couldn't stop

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 9 hours ago
Di kota kecil bernama Asterfall, seorang wanita abadi bernama Lysandra menjalani hidup yang sunyi setelah berabad-abad kehilangan orang-orang yang dicintainya. Demi melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit, ia memilih menjaga jarak dari semua orang-sampai ia bertemu Noel, pegawai toko buku yang ceroboh, hangat, dan terlalu tulus untuk diabaikan. Sedikit demi sedikit, Noel masuk ke dalam hidup Lysandra melalui hal-hal sederhana: secangkir kopi hangat, obrolan random di toko buku, dan kehadiran yang selalu konsisten di sisinya. Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, Lysandra mulai merasa hidup kembali. Namun semakin dalam perasaannya tumbuh, semakin besar pula ketakutannya. Karena tidak seperti dirinya, Noel akan menua. Dan Lysandra tahu persis bagaimana kisah seperti ini berakhir. Sebuah cerita slowburn romance tentang cinta, kehilangan, keabadian, dan seseorang yang baru menyadari betapa besar cintanya... saat waktu mereka hampir habis. CERITA INI FIKSI DAN TIDAK BERKAITAN DENGAN DUNIA NYATA.
All Rights Reserved
#110
sadending
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines