Kadang, hidup mempertemukan kita dengan seseorang lewat cara yang paling sederhana.
Bukan lewat hal besar.
Bukan juga lewat cinta pada pandangan pertama.
Melainkan lewat sebuah wawancara sore hari di perpustakaan universitas.
Aluna tidak pernah menyangka tugas penelitian kualitatifnya akan membawanya bertemu dengan Satrya, mahasiswa Fakultas Hukum yang hidupnya tidak pernah jauh dari organisasi, forum, dan manusia manusia yang selalu menaruh harapan di pundaknya.
Semua orang mengenal Satrya sebagai sosok yang tegas, berkarisma, dan terlihat selalu baik baik saja.
Namun di balik jawaban jawabannya yang terlalu panjang sore itu, Aluna menemukan sesuatu yang tidak dilihat banyak orang:
lelaki yang sebenarnya sama lelahnya dengan semua orang, hanya terlalu terbiasa menyimpannya sendiri.
Percakapan mereka seharusnya selesai saat wawancara berakhir.
Sayangnya, beberapa orang memang tidak berhenti tinggal hanya sebagai narasumber.
Mereka mulai mengenal satu sama lain lewat obrolan panjang, candaan receh, dan diskusi kecil tentang manusia, organisasi, hingga hidup yang terasa semakin rumit seiring waktu berjalan.
Namun saat itu, Satrya masih memiliki seseorang yang harus dipertahankan.
Membuat mereka perlahan kembali menjadi asing.
Hingga waktu mempertemukan keduanya lagi dalam versi yang berbeda:
lebih sibuk,
lebih lelah,
dan lebih dewasa.
Di tengah dunia organisasi yang perlahan menguras mereka, Aluna dan Satrya justru menemukan rasa nyaman yang tidak pernah mereka cari sebelumnya.
Tidak ada hubungan yang langsung sempurna.
Tidak ada cinta yang datang secara tiba tiba.
Hanya dua orang yang sama sama terbiasa menjadi tempat bersandar banyak orang... lalu tanpa sadar belajar bersandar satu sama lain.
Dan mungkin, beberapa pertemuan memang tidak pernah benar benar selesai.
Sama seperti forum yang selalu ditunda penutupannya. 🌙
Todos los derechos reservados