Alvaro Adijaya baru saja memulai hidup sebagai siswa SMA pada tahun 2000an, di masa ketika keadaan mulai berubah tanpa benar-benar disadari banyak orang. Bagi sebagian orang, ini adalah awal sebuah mimpi, tapi baginya justru awal dari serangkaian kekhawatiran. Setiap pagi ia berangkat sekolah bukan hanya dengan tas di punggung, tapi juga beban di kepala, bagaimana jika ia tak mampu membayar biaya sekolah bulan depan, di saat harga-harga mulai terasa naik? Bagaimana jika ia gagal memahami pelajaran dan tertinggal? Bagaimana jika hidupnya memang tidak pernah memberi ruang untuk berhasil?
Sejak kehilangan kedua orang tuanya, Alvaro hidup sendiri di rumah sederhana yang tersisa sebagai satu-satunya warisan. Rumah itu tidak hangat, tidak juga benar-benar dingin, hanya cukup untuk membuatnya tetap bertahan, di tengah keadaan yang perlahan terasa semakin sempit.
Sepulang sekolah, saat teman-temannya beristirahat atau menghabiskan waktu dengan hal-hal remaja khas 2000an, Alvaro justru bergegas mencari pekerjaan apa saja. Menjadi pelayan, kuli angkut, hingga pekerjaan kecil yang bahkan sering tak dianggap orang lain. Semuanya ia lakukan demi satu hal, yaitu bertahan hidup. Di saat banyak orang mulai merasakan perubahan yang tak menentu, baginya hidup sejak awal memang tak pernah benar-benar mudah. Hidup bukan tentang mimpi besar, tapi tentang bagaimana melewati hari ini tanpa runtuh.
Namun di tengah kerasnya realita, Alvaro tetap manusia biasa. Ia mengenal rasa lelah, rasa iri, dan diam-diam... rasa jatuh cinta. Perasaan yang terasa begitu jauh dari jangkauannya. Bagaimana mungkin seseorang sepertinya, yang bahkan kesulitan mencintai hidupnya sendiri, berani mencintai orang lain?
All Rights Reserved