Gw ulurin tangan pelan "Lu mau jadi Pengolah Ren kayak gw?"
Di tengah gemerlap gedung parlemen, ruang rapat elit, dan pesta anak pejabat, lahirlah sebuah tanda kecil berbentuk bunga.
Bukan lambang kekuasaan. Bukan simbol kehormatan.
Sebuah cap, tanda kepatuhan & kepemilikan.
Putra hanyalah pemuda biasa. Mantan pengusaha UMKM gagal yang hidupnya tidak memiliki sesuatu yang spesial. Tidak kaya, tidak miskin, tidak genius, tidak juga memiliki masa lalu tragis.
Hingga suatu malam, sebuah kesempatan datang dan perlahan mengubah cara ia memandang manusia.
Bersama Narendra, mahasiswa biasa yang terjebak di antara rasa loyalitas dan ambisi, Putra mulai memasuki dunia yang tidak pernah terlihat oleh masyarakat biasa-dunia tempat opini dibentuk, konflik diciptakan, dan arah negara dapat digeser tanpa perlu menduduki tahta.
Mereka bukan pembunuh. Mereka pengolah.
Dari ruang diskusi kampus, media sosial, broker politik, hingga lingkaran anak-anak elit, semuanya hanyalah tanah subur untuk menanam pengaruh.
Namun semakin tinggi Putra mekar, semakin busuk akar yang menopangnya.
Di dunia tempat semua orang memakai topeng moralnya masing-masing, tidak ada tokoh sepenuhnya baik atau jahat.
Hanya manusia-manusia yang berusaha tumbuh... dengan cara mereka sendiri.
Dan ketika bunga itu akhirnya mekar sempurna, pertanyaannya bukan lagi: "siapa yang mengendalikan negara?"
Melainkan: "siapa yang pertama kali menanam benihnya?"
All Rights Reserved