Setsunai Yugure

Setsunai Yugure

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadComplete Sat, Jun 20, 2026
Yuna Fujiwara selalu mencari tempat diam di atap sekolah setiap sore; di sana senja menipiskan warna ‎langit dan membiarkan perasaannya yang sulit diungkap menggumpal menjadi goresan pada kertas ‎sketsanya. Hidup Yuna tenang dan tertutup sampai suatu hari Rey Takahashi, siswa pindahan yang ‎tenang namun penuh rahasia, naik ke rooftop dan menemukan Yuna sedang menggambar. ‎Pertemuan itu sederhana: pertukaran sapaan, tawa canggung, dan cerita kecil yang mengalir seperti ‎angin senja. Dari obrolan tentang mimpi, rasa sakit kecil, hingga hal-hal yang tak terucap, Yuna dan Rey ‎menemukan kenyamanan dalam kebersamaan yang lambat tapi pasti menumbuhkan rasa.‎ Musim demi musim berlalu. Persahabatan mereka melebur menjadi sesuatu yang lebih halus-‎keterikatan yang membuat detik-detik di sekolah tampak lebih berwarna. Mereka melewati ujian, ‎latihan klub, dan momen-momen remeh yang kemudian dikenang sebagai bagian dari hari-hari ‎terakhir masa remaja. Di antara tawa dan sketsa, Yuna merasakan benih cinta tumbuh; Rey menjadi ‎alasan senyumnya, sekaligus cerita yang menempati halaman-halaman harapan Yuna.‎ Namun ketika mereka duduk di kelas 3 SMA dan lulus semakin dekat, waktu berdentang berbeda. Di ‎pagi yang cerah menuju gladi kelulusan, sebuah kecelakaan menimpa Rey. Luka-luka yang parah ‎menjemputnya ke dunia lain yang diam-Rey terbaring koma. Kabar itu menjatuhi Yuna seperti senja ‎yang menutup hari lebih cepat dari seharusnya: menyesakkan, tak terucap, dan penuh penyesalan ‎yang tak sempat diurai.‎ Menjelang hari kelulusan, Yuna menghadapi pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana menghadiri ‎upacara ketika orang terdekatnya terbaring tak sadarkan diri? Haruskah ia tersenyum di depan teman-‎teman sambil menyimpan luka dalam-dalam? Dalam keseharian yang dipenuhi tanya, Yuna menulis, ‎menggambar, dan mengingat setiap momen kecil bersama Rey-suara tawanya, cara ia melihat senja, ‎kata-kata yang tak sempat diungkap. Di antara upacara
All Rights Reserved
#670
kecelakaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines