Author's Note ⚠️
Cerita ini murni hasil imajinasi dan karya asli penulis. Ditulis dengan waktu, tenaga, dan perasaan.
⚠️ DILARANG KERAS menyalin, menjiplak, mengklaim, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi cerita ini ke platform mana pun tanpa izin penulis.
Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dan dapat ditindak sesuai aturan yang berlaku.
Untuk para pembaca, mohon bijak dalam membaca. Hormati karya, penulis, dan sesama pembaca.
Gunakan bahasa yang sopan di kolom komentar, tidak menyebarkan kebencian, tidak memaksakan opini, dan tidak membawa isu sensitif secara berlebihan.
Jika ada kritik atau saran, silakan disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun.
Terima kasih sudah membaca dan menghargai karya ini
_______☆________
"Let's live longer, my home."
Nyatanya, kehadiran seseorang yang dulu dianggap biasa adalah tempat bersandar paling nyaman. Bukan tentang seberapa lama kita mengenalnya, melainkan tentang seberapa jauh kita bertahan bersama.
Saat dirinya nyaris hancur diserang nestapa, jiwanya luruh bersama derita, dan kewarasannya tandas oleh luka. Disitulah kisah ini dimulai, saat dimana sosok "dia" yang menjadi tempat pulang ternyaman di tengah jiwa yang berduka, dan saat "dia" menjadi rumah di tengah kesunyian yang menghantam dada.
Dua orang yang sama-sama terluka, dipertemukan oleh takdir yang tak terduga. Pertemuan sederhana yang diam-diam merajut kisah menyenangkan sekaligus menyakitkan. Mereka saling menggenggam, mengharapkan sejumput kebahagiaan di akhir kisah yang telah mereka perjuangkan.
"Tragedi terbesar dalam hidupku adalah jatuh hati padamu. Tentang bagaimana kamu menawarkan banyak warna pada hidupku yang kelabu, dan tentang bagaimana kamu menjadi payung saat hujan kembali menghatuiku."
"Dan bagiku, kamu adalah sebuah film dengan episode-episode penuh makna, yang mengajarkanku cara untuk bertahan lebih lama-meski hanya seperti kupu-kupu yang tak lagi terbang, tapi tetap hidup dengan caranya sendiri."
All Rights Reserved