Nemesis (To Lover)

Nemesis (To Lover)

  • WpView
    Reads 109
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 9, 2026
Thasten Skybourne (Ten), seorang anak konglomerat yang terbiasa menjadi pusat perhatian membenci saingan diam-diamnya yang lebih pintar dan rendah hati-hanya untuk menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa kebencian itu menyembunyikan rasa yang jauh lebih dalam, dan bahwa orang yang paling ia lawan adalah satu-satunya yang bersedia mati untuknya. Karakter: - Thasten Skybourne (Ten) - Kaelan Brookhaven (Kael) - etc. Genre: Drama Romantis / LGBT+ / Slowburn / Coming of Age ©️ Jocelyn Inferni Dalton 2026
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Judul: Mengajak Bayi ke Variety Show dan Menjadi Terkenal (KAIJUN)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • KING OF A THOUSAND DEMON TOWERS
  • THE ANATOMY OF OBSESSION(bl)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines