Kala Aksara

Kala Aksara

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2026
"Semua orang menyukai senyumku,Aksara.Mereka hanya mau melihat panggung yang indah,bukan kekacauan di belakang layarnya." Semua orang menyukai Violetta Kala Kirani.Di atas panggung kehidupan,dia adalah definisi kesempurnaan. Selalu tersenyum,Selalu bersinar,Selalu ceria dan selalu dicintai. Namun,mereka tidak tahu bahwa demi mencapai kesempurnaan dalam segala hal,dia harus mengorbankan kebahagiaan dan kewarasannya. Sialnya,kesempurnaan yang Kala kejar setengah mati itu selalu saja terlihat biasa dihadapan Darain Aksara Mahardika,cowok cuek dan pemalas namun selalu meraih nilai tertinggi dalam semua ujian dan kompetisi.Cowok yang menjadi tolok ukur kesuksesan yang dipaksakan orang tuanya. Kala tidak membenci Aksara.Dia hanya terlalu lelah di banding-bandingkan. Bagi Kala,Aksara adalah lambang kegagalan yang membuktikan bahwa sekeras apa pun dia berusaha,dia tidak akan pernah cukup. Dan dikala,panggung sempurna milik Kala hampir runtuh,Justru Aksara lah yang berdiri paling depan untuk menemaninya. "Tapi gue nggak suka panggung yang indah,Kala.Gue cuma mau lihat orang yang berdiri dibelakang layar.Nggak peduli seberapa berantakannya dia." Karena bagi Aksara,Kala tidak perlu menjadi sempurna untuk terlihat berharga. Start:18.5.2026 Finish:
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines