Penyintas Teror Alexandrian

Penyintas Teror Alexandrian

  • WpView
    LECTURAS 67
  • WpVote
    Votos 12
  • WpPart
    Partes 12
WpMetadataReadContenido adultoConcluida mié, jul 1, 2026
Sekolah Alexanderian berubah menjadi tempat penuh ketakutan setelah serangkaian pembunuhan misterius menewaskan para siswa satu per satu. Di tengah teror itu, Bara, siswa kelas 12 yang dikenal dingin dan pemberontak, berusaha melindungi sahabat masa kecilnya, Sheri, seorang anggota OSIS yang menjadi target berikutnya. Saat tiga dalang di balik teror mulai terungkap, Bara dan Sheri harus bertahan hidup di tengah ancaman yang terus mengintai. Di balik perjuangan menghadapi sang psikopat, Bara akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • S Di Antara Dua N
  • Side Character Syndrome
  • Ervan Carolline
  • [TAMAT] Help, I'm a Zombie!
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • SALAH OBAT
  • GHOST FACE: NEXT, ARE YOU READY? (21+) ✔️
  • AVISENA
  • The Last Antagonis
  • 𝗗𝗲𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗲'𝗔𝘁𝗵𝗼𝘀

Dunia menyambut Navaro Azael Aryan dengan tangis haru dan sorak sorai. Lima menit kemudian, Nazino Azel Arian lahir, melengkapi kebahagiaan yang sudah meluap. Namun, takdir rupanya masih menyimpan kejutan di balik tirai. Lima belas menit berlalu, saat ruang persalinan hampir tenang, kontraksi hebat kembali datang. Lahir lah si bungsu, Savero Aziel Arthan. Alih-alih sorak sorai, keheningan yang canggung justru menyelimuti ruangan. Tatapan kedua orang tua mereka bukan lagi binar bahagia, melainkan keterkejutan yang sulit diartikan. Maklum saja, selama sembilan bulan pemeriksaan USG, dokter hanya menyatakan ada dua janin. Savero kecil rupanya sangat pandai bersembunyi di balik punggung kedua kakaknya, seolah ia memang sudah terbiasa mengalah sejak dalam kandungan. Perbedaan itu dimulai sejak detik pertama mereka menghirup udara dunia. Saat ketiganya menangis bersahutan, sang ibu langsung meminta suster membawakan Nazino ke pelukannya, sementara sang ayah sibuk menenangkan Navaro yang tampak gelisah. Lalu, bagaimana dengan Savero? Ia hanya menangis di dalam boks bayi, ditenangkan oleh usapan sarung tangan karet seorang suster yang merasa iba. Sejak saat itu, garis pembatas itu nyata adanya. Perbedaan itu bukan sekadar ketidaksengajaan, melainkan menjadi identitas yang melekat. Lihat saja namanya. Kedua kakaknya kompak menggunakan inisial N, sementara ia terlempar jauh ke abjad S. Kebiasaan dibedakan selama belasan tahun membentuk mental Savero menjadi baja. Ia bukan tipe remaja yang akan mengurung diri di kamar dan menangis hanya karena tidak dibelikan baju yang sama dengan kakak-kakaknya. Justru, Savero membangun dunianya sendiri dengan prinsip Anti Mainstream. Start : 8/3/2026 End : - Sampul by Ai

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido