Dialah Rumahku

Dialah Rumahku

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 3, 2026
Cerita Fiksi Kaela Rynna selalu bermimpi untuk merubah pandangan orang-orang tentang negaranya. Mendapatkan ending kehidupan yang sangat memuaskan dari kerja kerasnya merantau ke negeri sakura.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I love you, I'm sorry
  • THE OTHER WAY
  • Secretary?
  • Jadi Antagonis di Kisah Cinta Tokoh Utama
  • AKU? si THE VILAINESS (REVISI)
  • Wife of a Sanure
  • Begin Again: Rewriting My Ruin
  • DISA- FARADISA ANGELINA GAUTRI
  • The Runaway Lady
  • De Hoofdpersoon

Langit di atas gedung tua itu seolah ikut menangisi kegilaan yang terjadi di dalamnya. Hujan deras, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga. Di tengah ruangan yang lembap dan berdebu, Bianca Valerius berdiri dengan tangan gemetar. Di depannya, Elena Graves terkulai lemas dengan mulut terlakban, sementara Kael Draken berdiri membentengi gadis itu dengan tatapan penuh kebencian. "Bi, hentikan! Lo sudah melewati batas. Ini kriminal, Lo bisa masuk penjara!" teriak Kael. Bianca tertawa, tawa yang terdengar pecah dan putus asa. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini berantakan, basah oleh keringat dan air mata. "Hentikan? Dia yang merebut kamu dari aku, Kael! Dia yang menghancurkan pertunangan kita! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada seorang pun yang boleh!" Bianca mengangkat moncong pistolnya, membidik tepat ke arah jantung Elena. "Bi, kamu tidak bisa memaksakan cinta dengan cara seperti ini! Bukan Elena penyebabnya, tapi sikap kamu yang membuatku muak!" Kael melangkah maju, tanpa rasa takut. DOR! Satu dentuman keras membelah kesunyian malam. Bianca terpekik, namun peluru itu tidak bersarang di tubuh Elena. Kael ambruk. Darah segar merembes cepat dari dadanya, mewarnai kemeja putihnya menjadi merah pekat yang mengerikan. "KAEL!!!" Bianca menjatuhkan pistolnya. Dunianya runtuh saat melihat lelaki yang ia puja sejak SMP itu terkapar tak berdaya karenanya. "Bukan... bukan ini yang aku mau..." Bianca tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang ia menatap telapak tangannya-bersih. Tidak ada darah, tidak ada pistol. "Apa maksudnya tadi?" bisik Bianca dengan suara serak. "Itu... itu tidak mungkin terjadi. Aku tidak mungkin membunuh Kael." Wanita tua itu menggeser sebuah kartu di atas meja kayu. "Semua yang kamu lihat adalah bayangan yang akan terjadi di masah depan. Kejadian itu akan menjadi nyata dalam beberapa bulan ke depan jika kamu tetap berjalan di jalur yang sama."

More details
WpActionLinkContent Guidelines