Dia Gadis Bunga

Dia Gadis Bunga

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 19, 2026
Aku Azelya Nitta, orang-orang memanggil ku Azel. Aku duduk di bangku SMA kelas dua belas. Dan itu adalah tingkatan kelas terakhir ku di SMA Tirtayasa. Aku tinggal bersama ibuku, hari-hari ku selain bersekolah juga membantu ibu menjual bunga dengan menggunakan sepeda. Aku sangat suka bunga, bunga itu indah dan menyenangkan bagi ku. Setiap menjual, hati ku selalu ringan dan gembira saat mengantarkan pesanan bunga untuk banyak orang. Hingga pada hari itu, ada satu momen di mana diriku harus berurusan dengan laki-laki sombong yang bermulut tajam. Urusan itu sampai membuat ku sedikit hancur karena nya. Namun, perlahan banyak momen yang tidak kami sadari memberikan banyak pelajaran hidup. Tahu apa yang terjadi?
All Rights Reserved
#474
baper
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Almost Married (END)
  • Where They All Look At
  • R É G A L I S [REVISI]
  • Hot girl
  • Kesayangan Mas Juragan!
  • NINGRUM
  • SECOND TASTE
  • The Imperfect Señorita

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines