MAHKOTA LUKA NADARESTA

MAHKOTA LUKA NADARESTA

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 1, 2026
"Kalau lo nyentuh hidup gue lagi, gue pastiin lo nyesel kenal sama gue." Nadaresta Maheswari selalu hidup di balik citra keluarga sempurna. Sampai malam itu, sebuah kecelakaan mempertemukannya dengan Arsaguna Dirgantara cowok paling rusak yang seharusnya dia hindari. Arsa terkenal berandalan. Tawuran, balapan liar, skorsing berkali-kali. Semua orang takut sama dia. Kecuali Nada. Yang tidak Nada tahu, kedekatan mereka ternyata menyeret rahasia lama tentang ayahnya sendiri. Rahasia yang membuat keluarga Arsa hancur bertahun-tahun lalu. Di tengah kebencian, obsesi, dan permainan anak-anak elite yang busuk, Arsa justru menjadi satu-satunya orang yang selalu berdiri di depan Nada saat semua orang meninggalkannya. "Lo boleh benci gue, Nada. Tapi jangan pernah milih pergi." Tapi bagaimana kalau laki-laki yang paling melindunginya juga orang yang paling ingin membalas dendam pada keluarganya?
All Rights Reserved
#179
rekomendasiwattpad
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines