I Love You, Bu Guru
Cita-cita Mutia sangat sederhana.
Lulus kuliah dia akan mengajar, menjadi guru, kemudian lolos tes CPNS, mengajar sampai tua dengan gaji tetap, dan akhirnya pensiun untuk menikmati masa tuanya.
Setidaknya itulah yang Mutia inginkan, namun sayangnya Ibunya tidak sejalan, bagi Ibunya, semua pencapaian itu tidak ada artinya jika Mutia masih sendiri.
Wanita belum lengkap jika belum menikah itu sebabnya Ibunya begitu getol menjodohkan Mutia dengan anak Juragan Beras, langganan Toko Ibunya.
Sayangnya Mutia menolak dengan tegas. Luka di hati Mutia melihat Ayahnya meninggalkan Ibunya, pria yang dicintainya juga ternyata mendekatinya demi dekat dengan sahabatnya sendiri, nyatanya begitu membekas hingga Mutia selalu berpikir.
"Aku mampu hidup sendiri dengan bahagia, aku tidak butuh laki-laki dalam hidupku."
Keyakinan itu yang Mutia pegang, membuat Ibunya sakit kepala karena sebutan perawan tua melekat kepadanya, sampai akhirnya muncul satu sosok yang tiba-tiba muncul di jalanan depan gedung SMA tempatnya mengajar.
Seorang berseragam coklat yang nyaris setiap hari menawarkannya hal yang sama.
"Bu Guru, sarapan soto sama saya, yuk."