I Hate Boy,But Not Him

I Hate Boy,But Not Him

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2026
Pernah tidak kalian mendengar kalimat "cinta pertama seorang putri adalah ayahnya? Mungkin, itu benar. Bagi mereka yang beruntung. Namun tidak dengan Briana. Nama lengkapnya Briana Valerie, atau sering dipanggil dengan Valeri. Seorang putri yang selalu merasa bahwa dirinya tidak pernah diinginkan oleh ayahnya sendiri. Ia hanya tersenyum kecut saat mendengar teman-temannya membanggakan ayah mereka. "Perasaan bokapnya orang waras semua ya? Gak kayak bokap gua, entah dimana sekarang gua juga gatau.. Gak peduli juga. " Gadis itu tersenyum miris. "Gak boleh ngomong gitu ih, Val. Mungkin bokap loe punya alesan kenapa dia ninggalin kalian. " Ucap Sonia menghibur. Diantara semua temannya, Sonia lah yang paling dekat dengannya. Valeri hanya mendengus, tidak suka dengan semua kalimat penghibur dan semacamnya jika mengenai sosok seorang ayah. Yang dia yakini, ayahnya adalah seorang laki-laki brengsek. Maka dari itu, Valeri tak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan laki-laki manapun hingga saat ini. Di usia nya yang masih 18 tahun, Valeri dikenal sebagai pembully, dan pembuat onar di lingkungan sekitarnya. Bagaimana kisah selanjutnya? Mari kita ikuti alur kisah hidup seorang Valeri. Selamat membaca🤗
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines