"Maureen, kalau nama file kamu masih 'final, fix, bismillah yang ini bener', saya nggak akan buka isi draft kamu."
[Abraham Aswatama Bisma Rajendrawicitrawirya]
"Dr. Ir. Abraham Aswatama Bisma Rajendra ... Rajendra ... bentar, ini namanya masih lanjut?"
[Maureen Ruqaiya Zamiranda]
Maureen Ruqaiya Zamiranda cuma punya satu misi sebelum lulus: menyelesaikan Tugas Akhir prarancangan pabrik asam nitrat tanpa kehilangan akal sehat. Sayangnya, misi itu runtuh sejak dosen pembimbingnya diganti menjadi Abraham Aswatama Bisma Rajendrawicitrawirya-dosen killer bermulut pedas, wajahnya datar seperti laporan audit, dan standar revisinya bisa membuat mahasiswa menangis di depan laptop.
Bagi Maureen, Pak Abraham adalah bencana akademik berjubah kemeja rapi. Nama file salah, disindir. Perhitungan goyah, dibantai. Belum makan, ikut dimarahi. Awalnya Maureen yakin pria itu tidak punya hati, hanya punya spreadsheet dan kopi hitam.
Tapi pelan-pelan, hal paling menyebalkan dari Abraham berubah jadi hal yang paling sulit diabaikan. Ia galak, tapi selalu tahu kapan Maureen panik. Ia dingin, tapi diam-diam memastikan Maureen makan. Ia pedas, tapi justru membuat Maureen merasa aman.
Masalahnya, Abraham bukan laki-laki yang seharusnya membuat Maureen berdebar.
Dia dosen pembimbingnya.
Di saat hubungan mereka mulai melewati batas yang tidak berani disebutkan, Rafa-ketum BEM Fakultas Teknik yang selama ini dekat dengan Maureen-mulai menyadari ada sesuatu yang Maureen sembunyikan.
Lalu satu gosip kecil menyebar lebih cepat dari portal akademik yang error.
Maureen dituduh mendapat kemudahan. Abraham terancam dibawa ke sidang kode etik. Dan semua orang mendadak merasa berhak menghakimi cerita yang bahkan belum mereka tahu sepenuhnya.
Kini Maureen harus membuktikan satu hal:
Tugas Akhirnya bukan hasil belas kasihan.
Bukan hadiah dari siapa pun.
Dan jelas bukan alasan untuk membuat perasaannya dianggap skandal murahan.
All Rights Reserved