COME BACK BLOODY

COME BACK BLOODY

  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2026
"Pergi kalo memang harus. Tapi tempat satu-satunya lo boleh hancur, itu cuma di pelukan gue." 🥀🥀🥀 Mereka bilang cinta itu menyelamatkan. Tapi Elliza dan Danu membuktikan kalau cinta juga bisa jadi cara paling efektif untuk saling menghancurkan. Elliza dan Danu nggak pacaran seperti orang normal. Gak ada kata "aku cinta kamu" yang keluar tanpa disertai luka. Mereka pacaran dengan aturan aneh: Boleh main api tapi jangan sampai lewatin garis merah. Langgar aturan ini dan kita nggak janji yang ngelanggar bisa pulang dengan utuh. "Pulanglah dalam keadaan berdarah" Ini bukan kisah romansa manis. Ini kisah tentang dua jiwa yang babak belur, tentang ketergantungan yang mereka sebut cinta, dan tentang pertanyaan paling sakit: Kalau yang kamu pulangi cuma orang yang sama-sama rusak... apa itu masih bisa disebut pulang? Untuk kamu yang pernah merasa, lebih baik hancur bareng daripada sendiri.
All Rights Reserved
#891
darkromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain's Mother
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines