Easy to Love (Markkeon)

Easy to Love (Markkeon)

  • WpView
    Reads 1,750
  • WpVote
    Votes 242
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 7 hours ago
Isha (Keonho) awalnya cuma sibuk buat dapet tempat intern aja (tuntutan kampus di semester 7 hadehhh), he wasn't thinking about anything waktu keterima masuk di salah satu agensi besar sebagai video editor, sialnya dia baru pertama kali dapet jobdesk ini... selain karena dia selalu pegang bagian naskah or produser project, editing was his enemy karena revisiannya suka ga ngotak katanya. Untungnya disana ada Marselius (Martin) yang biasa Isha panggil Mars, kata mentornya Isha boleh tanya apa aja ke Mars karena dialah yang selalu handle jobdesk editing dari client kecil sampe besar, but Isha were so shame and kinda awkward with Mars... Then... what's so Easy to Love, Isha?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines