Bagi Nayla, Hotel Oranje hanyalah sebuah tempat bersejarah di Surabaya tempatnya bekerja mengumpulkan arsip masa lalu untuk bahan artikel beritanya. Namun, sebuah guncangan di dalam lift tua menyeretnya menembus pembatas waktu, melemparnya langsung ke koridor hotel yang sama pada tahun 1932.
Di era kolonial yang kaku dan penuh sekat sosial itu, Nayla adalah sebuah anomali. Kehadirannya yang serba-asing menarik perhatian Willem de Backer, seorang taipan pelayaran berdarah campuran Belanda-pribumi yang hidupnya selalu teratur, penuh kendali, dan bergerak mutlak di atas logika angka.
Dua manusia dari abad yang berbeda ini terpaksa berbagi ruang di bawah atap Hotel Oranje. Di antara rahasia yang harus disembunyikan, percakapan singkat di sudut-sudut lorong yang remang, dan jarak yang perlahan mengikis, sebuah kedekatan tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan. Pertemuan mereka selalu terasa datang terlalu cepat dan selesai terlalu sebentar untuk sekadar disebut kebetulan.
Ketika waktu menjadi musuh terbesar yang tak bisa dilawan, Hotel Oranje menjadi saksi dari sebuah rasa yang tumbuh di celah dimensi yang salah. Tempat di mana semua momen terasa begitu nyata, namun tak pernah sepenuhnya bisa dimiliki.
Sebab pada akhirnya, masa depan menuntut untuk kembali, meninggalkan jejak sejarah yang tak utuh, ingatan yang memudar, dan perasaan yang tidak pernah sempat diberi nama hingga akhir.
Alle Rechte vorbehalten