LANGKAH YANG TAK PERNAH MUNDUR
"Ga... jangan terlalu keras pada diri sendiri," kata ayah pelan.
Arga menunduk, suara nyaris tersedak, "Tapi Ayah... semua ini... semua yang Ayah lakukan... aku takut mengecewakan Ayah."
Ayah duduk di sampingnya, menepuk bahunya, "Tak perlu takut. Aku tahu kau akan berusaha. Itu sudah cukup."
Malam itu, Arga menangis. Bukan karena gagal, tapi karena akhirnya memahami
nyata.
Ia lebih disiplin, lebih fokus, lebih matang dalam menghadapi sekolah dan tekanan. Ia mulai membantu ibu, mengurus rumah, bahkan sesekali memperbaiki sepeda atau barang-barang di rumah bersama ayah.
Ia menyadari: cinta ayah bukan hanya soal kata-kata, tapi tentang tindakan, pengorbanan, dan kesabaran.
Dan Arga mulai memikul tanggung jawab itu. Bukan dengan rasa takut, tapi dengan tekad yang tumbuh dari pemahaman yang lebih dalam.
Malam itu, Arga tidur lebih tenang daripada biasanya.
Ia masih takut gagal, tapi kini ia tahu... setiap langkah yang ia ambil, setiap usaha yang ia lakukan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk ayah yang diam-diam selalu hadir, menopang, dan berkorban tanpa mengeluh.
Dan itu... memberinya kekuatan baru untuk menghadapi ujian dan tantangan yang akan datang