Bagi Clara, Lee Haechan itu kayak paket bundling dari Tuhan yang tidak bisa di cancel.
Satu komplek dari balita, satu sekolah dari TK, bahkan sekarang terdampar di kelas 11 IPA yang sama karena Haechan tantrum gak mau dipisah, membuat hidup Clara gak pernah sepi dari yang namanya kerusuhan. Haechan itu berisik, jahilnya di luar nalar, dramatis, dan hobinya memancing emosi Clara sampai ke ubun-ubun di atas Vespa matic kuning kesayangannya.
Tapi di balik mulutnya yang ceplas ceplos, Haechan adalah orang pertama yang masangin jaketnya saat rok sekolah Clara kependekan. Dia adalah orang yang hapal di luar kepala kalau siomay Clara gak boleh pakai kol, dan dia juga yang paling depan pasang badan saat cowok lain mencoba macam-macam.
Mereka sedekat nadi, senempel perangko. Tapi, di antara boncengan Vespa pagi hari dan obrolan random di teras rumah, ada sebuah marka jalan yang tak kasat mata.
Yellow Lines.
Garis kuning pembatas yang memperingatkan mereka untuk tetap di jalur bernama 'sahabat'. Sebuah garis aman yang menjaga mereka agar tidak saling kehilangan, meski hati diam-diam sudah bosan pura-pura tidak tahu.
Apakah Haechan akan tetap bertaha di balik garis aman itu, atau nekat menerobosnya demi mendapatkan Clara seutuhnya?
"Gue tau batas, Ra. Tapi kalo lo sedeket ini tiap hari, gimana caranya otak gue gak konslet?"
- Haechan
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang