Baby Blues
Di sebuah apartemen sempit di pinggiran Seoul, aroma ramyeon instan dan bedak bayi bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang menyesakkan bagi Jennie.
Di luar, salju pertama mulai turun membasahi jalanan distrik Mapo, tapi di dalam kamar Jennie, waktu seolah berhenti sejak kepulangan mereka dari rumah sakit tiga minggu lalu.
Jennie, yang baru menginjak usia 18 tahun, seharusnya sedang mengenakan seragam sekolah dan mengantre tiket konser bersama teman-temannya. Namun kini, ia hanya duduk meringkuk di sudut kasur, menatap nanar ke arah Lisa-bayi perempuan yang terus merengek di dalam boks bayi.
"Diamlah, tolong..." gumam Jennie dengan suara parau. Ia tidak bergerak. Ia tidak ingin menyentuh bayi itu. Baginya, Lisa adalah pengingat hidup akan pengkhianatan kekasihnya yang menghilang tanpa jejak tepat setelah mengetahui Jennie hamil.
Pintu apartemen terbuka. Jisoo, kakak tertua yang bekerja di sebuah toko swalayan hingga larut malam, masuk dengan langkah gontai. Di belakangnya ada Chaeng, adik bungsu mereka yang baru pulang dari bimbingan belajar dengan tas sekolah yang berat.
"Aku pulang!" seru Chaeng, tapi suaranya langsung mengecil saat mendengar tangis Lisa yang tak kunjung berhenti.
Jisoo segera meletakkan tasnya dan berlari ke arah boks bayi. Ia menggendong Lisa, menimangnya dengan cekatan. "Jen, dia haus? Atau popoknya penuh? Kenapa dibiarkan saja?" tanya Jisoo, suaranya mengandung kelelahan tapi tetap lembut.
Jennie tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah ke arah jendela.
"Eonnie, biar aku yang buatkan susunya," sahut Chaeng buru-buru, berusaha mencairkan ketegangan. Ia menatap Jennie dengan iba. Ia tahu kakaknya sedang berjuang dengan badai di dalam kepalanya, sesuatu yang orang-orang sebut sebagai Postpartum Depression atau baby blues.
EBOOK AVAILABLE