The Things We Never Talk About

The Things We Never Talk About

  • WpView
    Reads 102
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 5, 2026
21+ Pada usia delapan belas tahun, Kala percaya bahwa semua masalah bisa ditertawakan. Pada usia tiga puluh satu tahun, Catur percaya bahwa tidak semua hal pantas dijadikan lelucon. Mereka berbeda dalam hampir segala hal. Namun di balik pertengkaran, prasangka, dan rahasia yang tak pernah diucapkan, ada sesuatu yang perlahan tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang tidak pernah mereka bicarakan. Dan mungkin, tidak seharusnya mereka rasakan. Start: 22 Mei 2026 End: Cover by Canva
All Rights Reserved
#643
bedausia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Unchosen
  • Reconcile
  • BABY GUMMY [E-BOOK]
  • forever in you
  • How To Be Loved?
  • ✓Dandelions
  • Meraki Love
  • Almost Married (END)
  • Married, Whatever!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines