KALA SOEARA: SIARAN PAMIT
Frekuensi yang Tidak Tercatat. Nama yang Tidak Boleh Disebut.
Tahun 2025.
Arsa, mahasiswa biasa, tanpa sengaja membuka peti peninggalan Eyang-nya: seorang mantan teknisi NIROM Hindia Belanda. Isinya cuma buku harian lusuh dan satu piringan hitam.
Tapi tepat jam 01:00 malam, piringan itu berputar sendiri.
"Siaran pamit malam ini... oentoek... Sastro, anak Lurah..."
Besoknya, nama itu muncul di koran tua tahun 1931: "Anak Lurah Tewas Misterius."
Tahun 1928.
Pemancar Kala Soeara di Langen Mati, Magelang, nyaris ditutup Belanda. Lalu datang Van Der Meulen, Direktur NIROM, membawa solusi dari seorang dukun: Siaran Pamit. Aturannya sederhana. Tiap 35 purnama, sebut satu nama. Besoknya yang punya nama mati. Sebagai gantinya, sinyal jadi jernih, listrik satu kota menyala.
Mas Djo, teknisi muda, dipaksa jadi "Djagal". Djagal suara. Tumbal pertamanya: anak Lurah.
Tumbal terakhirnya: anaknya sendiri. Wiratmo, 5 tahun.
Tahun 2025.
Kutukan itu pindah ke digital. 97.4 FM. Frekuensi mati yang tiba-tiba hidup tiap purnama. Menyebut nama. Menagih nyawa.
Arsa pikir dia korban. Ternyata dia cadangan.
Eyang sengaja menikah lagi setelah mengorbankan Wiratmo, membuat garis keturunan baru. Garis keturunan Djagal. Arsa adalah cicilannya. Warisannya. Gantinya.
Sekarang purnama ke-35 tiba. Arsa berdiri di ruang pemancar yang sama, memegang Pita MASTER. Di hadapannya ada 3 pilihan:
Sebut namanya sendiri. Dia mati, kutukan putus 50 tahun.
Sebut nama orang lain. Dia hidup, tapi jadi Djagal baru selamanya.
Hancurkan semua. Dia mati, satu desa mati, tapi siaran berhenti selamanya.
pilihan apa yang akan Arsa ambil ?
Dia salah.
Karena KALA tidak pernah mati. KALA hanya ganti penyiar.
Dan jauh di bawah Monas, KALA-01 masih menyala. Menunggu Siaran Pamungkas miliknya.
PERINGATAN:
Jangan dengarkan 97.4 FM saat purnama. Jangan sahuti kalau ada yang memanggil namamu dari statis.
Karena yang menyiar mungkin bukan orang.
---
All Rights Reserved