Jagat Narendra tidak pernah benar-benar tau arti dari kehilangan, karena baginya segala sesuatu yang beranjak pergi dari dirinya tidak perlu diratapi apa lagi sampai repot-repot ditangisi. Jika memang sudah takdirnya untuk diakhiri, cukup dimaklumi, lalu dikubur dalam sunyi sampai segala remuknya tampak seperti kisah yang memang semestinya selesai tanpa kata tapi.
Maka dari itu ia terbiasa lakoni hidupnya dengan cara yang paling ia kuasai, dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan tanpa henti sampai tak ada lagi ruang untuk merasa pedih oleh memori yang enggan ia ingat kembali, sambil ditemani orang baru yang setia menunggu berharap bisa bantu buat dunianya terasa cukup dan utuh, meski hatinya selalu gagal untuk merasa penuh dihantui bayang-bayang yang mati-matian ia bunuh.
Pikirnya selama hurufnya tidak disebut di mulut, perih itu perlahan akan surut, selama ada distraksi baru yang lalu lambat laun kenangannya akan runtuh, sayangnya dia tidak tau, bahwa luka yang dipaksa bungkam terus menerus mustahil untuk berangsur sembuh.
Sampai sebuah kejadian tak disangka memaksanya Kembali berhadapan dengan apa yang dulu gagal ia jaga dengan sungguh, Di sana, batas antara rindu dan sesal, ingatan dengan kenyataan terasa kabur sampai kehilangan bentuk, Membuat Jagat sadar, bahwa kenangan yang ia tinggalkan tak pernah benar-benar pergi, dan tak semua yang ia genggam sungguh-sungguh ia cintai.
All Rights Reserved