Di balik gemerlap itu, Valerie Luisa Marlene Ilsa berdiri diam, sosoknya yang memikat dengan paras jelita bak kembang desa yang terperangkap di kerasnya aspal kota.
Meski dikenal sebagai pemuas nafsu bagi pria-pria yang melintas, kebaikan hatinya tetap tulus dan murni, kontras dengan kehidupan malam yang kelam.
Kecantikannya yang membius bukan hanya sekadar rupa, melainkan pancaran kelembutan yang ia berikan kepada siapa pun, menjadikannya anomali yang paling dicari sekaligus disayangkan di tengah hiruk-pikuk yang tak pernah tidur.
Di tengah riuhnya bar, di antara kepulan asap rokok dan tawa rendah para pria yang mendambakannya, Valerie hanyalah sebuah raga yang kehilangan jiwanya.
Ia duduk terdiam, jemarinya perlahan memutar tangkai gelas wine-gerakan repetitif yang ia lakukan untuk menutupi hampa di dadanya. Senyum tipis terukir di bibirnya, sebuah topeng sempurna yang ia pakai agar terlihat seolah menikmati semua ini. Padahal, setiap serat otot di tubuhnya menjerit karena lelah.
Tiba-tiba, suasana di sekitar meja Valerie seolah membeku. Seorang pria muncul dari keremangan, melangkah dengan tenang dalam balutan kemeja hitam yang pas di tubuh dan celana senada. Ia tidak membawa kebisingan, melainkan aura dingin yang tajam.
Pria itu berhenti tepat di depan meja Valerie. Jarak di antara mereka menipis hingga napas mereka seolah bisa saling bersentuhan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengulurkan tangannya-sebuah undangan yang terasa seperti takdir.
Valerie tertegun sejenak, namun sesuatu dalam tatapan pria itu menghipnotisnya. Saat jemari dingin Valerie menyentuh telapak tangan pria itu, ia merasakan sebuah tarikan yang ganjil.
Begitu genggaman itu terpaut, dunia Valerie tidak lagi sama. Retakan tercipta di atas realitasnya yang lama, perlahan hancur untuk digantikan oleh sesuatu yang baru-sebuah perubahan drastis 180 derajat yang akan menyeretnya ke tempat di mana cahaya bar itu tak lagi bisa menjangkaunya.
All Rights Reserved