Gabriel dan Bylora adalah dua jiwa yang sama-sama tumbuh dari luka, meski tidak pernah berjalan di jalan yang sama.
Bylora hidup di bawah bayang-bayang ambisi yang tak pernah selesai. Sejak kecil ia diajarkan bahwa kesempurnaan adalah kewajiban, bahwa nilai adalah ukuran cinta, dan bahwa kegagalan adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi. Tapi apakah benar manusia harus selalu sempurna untuk layak dicintai? Di balik semua pencapaian yang ia kejar, ada ruang kosong yang tidak pernah terisi sejak ibunya pergi, dan sejak kakaknya memilih meninggalkan rumah yang penuh tekanan itu. Lalu sebenarnya, untuk siapa semua kesempurnaan itu ia jalani untuk dirinya, atau untuk harapan orang lain?
Di sisi lain, Gabriel tumbuh dari kehilangan yang terlalu dini untuk dimengerti. Ia kehilangan orang tua saat masih kecil, lalu perlahan kehilangan sosok kakak yang seharusnya menjadi tempat pulang. Tanpa pegangan, tanpa arah, ia tumbuh menjadi seseorang yang keras, liar, dan dikenal bersama geng motor Daggerthrone. Tapi apakah seseorang menjadi buruk karena ia memang ingin, atau karena tidak pernah diajarkan cara untuk benar? Jika tidak ada yang membimbing, apakah salah jika seseorang tersesat?
Bylora dan Gabriel berjalan di dua dunia yang berbeda satu terlalu terikat oleh aturan, satu terlalu bebas tanpa arah. Namun keduanya menyimpan pertanyaan yang sama: bagaimana rasanya menjadi "cukup" tanpa harus terus-menerus berjuang untuk diakui? Apakah luka yang tidak terlihat tetap disebut luka, jika tidak pernah ada yang benar-benar memperhatikannya?
Dan ketika dua kehidupan yang sama-sama retak itu akhirnya saling bersinggungan, muncul satu pertanyaan yang lebih besar: apakah seseorang datang dalam hidup kita untuk menyembuhkan, atau justru untuk menunjukkan bahwa kita selama ini tidak benar-benar baik-baik saja?
Karena pada akhirnya... siapa yang sebenarnya paling tersesat? Mereka yang sadar sedang jatuh, atau mereka yang merasa sudah berdiri, padahal perlahan hancur tanpa disadari?
All Rights Reserved