Bumi & Dunianya
Bagi Mohan Bumi Aksara, hidup adalah tentang kepastian. Angka yang bisa dihitung, kode yang bisa dijalankan, dan jarak aman yang harus dijaga dari siapapun yang mencoba masuk ke dunianya. Dia adalah "Bumi" - diam, kokoh, dan tidak suka kejutan.
Sampai akhirnya, Aqeela Shezza Naura datang seperti hujan badai di tengah musim kemarau.
Aqeela itu berisik, ceroboh, dan selalu membawa kekacauan. Dia tidak mengerti bahasa logika. Baginya, perasaan adalah satu-satunya kompas yang harus diikuti.
Aqeela nggak butuh izin untuk masuk ke ruang pribadi Mohan, dia cuma ... masuk gitu aja, ngacak-acak barisan rapi hidup Mohan dengan aroma parfum vanila dan tawa yang menyebalkan.
Di antara tenggat waktu proyek Gen Z Fest, aroma kopi di perpustakaan, dan rahasia yang tersimpan di balik piringan hitam lawas, Mohan mulai menyadari satu hal: logikanya nggak lagi cukup buat jelasin kenapa jantungnya berdegup kencang tiap kali Aqeela mukul lengannya.
Namun, saat "Hujan" mulai reda dan "Bumi" mulai terbuka, sebuah masa lalu dan kehadiran sosok sempurna seperti Gavin Elang Samudra memaksa mereka memilih.
Apakah Logika akan selalu menang atas Rasa? Atau akankah sang Bumi akhirnya mengakui bahwa dia cuma butuh satu alasan untuk berhenti diam: yaitu sang Hujan itu sendiri?
"Karena sedingin-dinginnya Bumi, dia tetap butuh Hujan untuk menumbuhkan sesuatu yang disebut... perasaan."